Bukit Tiong Kandang menawarkan pengalaman berbeda—perjalanan yang tidak hanya menyuguhkan panorama, tetapi juga menyentuh sisi kearifan lokal.
Sanggau, Kalimantan Barat – Dari kejauhan, siluet megah sebuah bukit menjulang tinggi di antara hamparan hijau Kalimantan Barat, seolah menyapa setiap pelintas yang melintasi jalur darat dari Pontianak menuju Kabupaten Sanggau. Bukit itu dikenal dengan nama Tiong Kandang, sebuah destinasi wisata alam yang belum lama ini semakin menarik perhatian para pencinta petualangan dan penjelajah suasana alam pedalaman Borneo.
Ikon Alam di Ujung Perjalanan
Keindahan Bukit Tiong Kandang mulai terasa ketika para pelancong menuruni kawasan yang dikenal luas sebagai Bukit Benuah, atau yang akrab disebut "Mungguk Rebung" oleh masyarakat sekitar. Dari titik inilah, bentangan lanskap tropis Kalimantan tersaji nyata—perpaduan antara perbukitan, lembah hijau, serta deretan pepohonan hutan hujan yang masih lestari.

Berada di kawasan perbatasan antara Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Landak, sebagian besar wilayah bukit ini terbentang di Kabupaten Sanggau. Sejak tahun 2018, kawasan tersebut secara resmi berstatus Hutan Adat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.5770/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/9/2018 tentang Penetapan Hutan Adat Ketemenggungan Tae. Status ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan menjadi penjaga utama kelestarian ekosistem sekaligus warisan budaya masyarakat adat.
Lebih dari Sekadar Bukit: Sumber Kehidupan dan Lokasi Sakral
Bagi masyarakat adat Ketemenggungan Tae, Bukit Tiong Kandang bukan semata objek wisata. Gunung setinggi kurang lebih 980 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan sumber air berlimpah yang menghidupi permukiman di sekitarnya. Tak hanya itu, puncak dan lerengnya dipercaya sebagai lokasi sakral yang dijaga ketat melalui aturan adat turun-temurun.
Konsekuensinya, tidak setiap orang diperbolehkan mendaki secara sembarangan. Prosesi adat, izin dari tetua, serta penghormatan terhadap nilai-nilai lokal menjadi bagian tak terpisahkan sebelum siapapun menapaki puncak Tiong Kandang. Tradisi ini justru menjadi daya tarik tersendiri, memperlihatkan bagaimana kelestarian alam dan budaya bisa berjalan beriringan.
Destinasi Favorit dengan Akses yang Mudah
Dengan ketinggian 980 mdpl, Tiong Kandang menjelma sebagai salah satu destinasi favorit bagi kalangan hiker dan pencinta trekking. Pasak alasan utamanya jelas: pemandangan alamnya yang masih asri, udaranya yang segar, serta tantangan pendakian yang memacu adrenalin. Yang menarik, lokasi bukit ini relatif mudah dijangkau dari ibu kota Provinsi Kalimantan Barat.
Perjalanan dari Kota Pontianak menuju kawasan ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam, dengan jarak tempuh kurang lebih 126 kilometer. Kondisi jalan yang terus membaik dari tahun ke tahun juga turut mendukung aksesibilitas, menjadikan bukit ini opsi menarik untuk liburan singkat maupun ekspedisi akhir pekan.
Pesona yang Terus Memikat
Di tengah maraknya wisata komersial yang berlebihan, Bukit Tiong Kandang menawarkan pengalaman berbeda—perjalanan yang tidak hanya menyuguhkan panorama, tetapi juga menyentuh sisi kearifan lokal. Keasrian hutannya, keteduhan udaranya, serta kekayaan budayanya menjadikan bukit ini lebih dari sekadar tempat singgah.
Bagi siapa pun yang mendambakan wisata alam bernuansa autentik di Kalimantan Barat, Bukit Tiong Kandang layak masuk dalam daftar tujuan. Namun perlu diingat, menyusuri kawasan ini bukan hanya soal menaklukkan ketinggian, melainkan juga tentang menghormati alam dan tradisi yang telah menjaganya selama ratusan tahun lamanya.
Fakta Singkat Bukit Tiong Kandang:
| Komponen | Keterangan |
| Lokasi | Perbatasan Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat |
| Ketinggian | ± 980 mdpl |
| Status | Hutan Adat Ketemenggungan Tae (SK.5770/MENLHK-PSKL/PKTHA/PSL.1/9/2018) |
| Jarak dari Pontianak | ± 126 km / sekitar 3 jam perjalanan |
| Daya Tarik | Panorama alam asri, jalur hiking, serta nilai sakral masyarakat adat |
Peta Lokasi
“Nature is not a destination. It is where we belong.”
Baca artikel lain

